Sunrays

Blogger Template by ThemeLib.com

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label mars. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mars. Tampilkan semua postingan

PLANET MERAH

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.36

Mars : Part - 1

Dari sudut pandangan penghuni bumi yang penuh rasa ingin tahu, planet yang paling menarik dalam banyak hal adalah Mars. Atmosfernya cukup tebal hingga memungkinkan suatu bentuk iklim dan cuaca, namun awannya tidak menyembunyikan permukaan planet seperti planet Venus. Seperti bumi, di sana terdapat tudung kutub putih, dan corak permukaannya berubah menurut perubahan musim.

Ciri-ciri yang menyerupai ciri bumi ini menyebabkan beberapa orang berpikir bahwa Mars dihuni oleh suatu jenis kehidupan yang tak berbeda jauh dengan yang ada di bumi. Memang, sepintas lalu planet ini tampak nyaman sehingga banyak penulis, yang tidak semuanya dengan sadar menulis cerita khayal, telah mengisi planet itu dengan penghuni yang kecerdasannya paling sedikit tidak kalah dengan manusia. Walaupun pandangan ekstrem ini tidak dianut oleh kebanyakan ahli astronomi, banyak yang percaya bahwa Mars dapat menunjang kehidupan. Pengamatan mutakhir telah mengecilkan, tetapi tidak menghilangkan, kemungkinan ini. Kalau ditinjau dari keadaannya yang cocok bagi kehidupan, Mars tergolong planet yang khas.

Kemungkinan adanya kehidupan di Mars tidak didasarkan pada kesamaan planet itu dengan bumi. Dari segi fisis yang penting, Mars kalah dengan Venus dalam kemiripannya dengan bumi. Garis tengahnya (6.780 kilometer) hanya sedikit lebih besar daripada setengah garis tengah bumi, sedangkan massanya kira-kira hanya sepersepuluh massa bumi. Orbit Mars lebih lonjong daripada orbit bumi dngan jarak rata-rata kira-kira 225 juta kilometer dari matahari, jadi lebih dari 50 persen lebih besar daripada orbit bumi. Kecerahan cahaya matahari di Mars rata-rata kurang dari setengah kecerahan di bumi, dan ini menyebabkan planet tersebut jauh lebih dingin.

Ciri-ciri yang menunjukkan kemungkinan adanya kehidupan di Mars sukar dilihat. Walaupun atmosfer Mars pada umumnya jernih, planet ini merupakan sasaran yang menjengkelkan. Dengan teleskop besar sekalipun Mars hanya terlihat sebagai bola kecil jingga kemerah-merahan yang tepinya kabur dan biasanya agak bergetar akibat golakan dalam atmosfer bumi. Mata awam tidak akan melihat apa-apa kecuali tudung putih kutubnya, yang salah satunya biasanya tampak, dan beberapa bercak gelap. Tetapi bila pengamat tekun dan beruntung mendapatkan malam yang ketampakannya baik, bola kabur tersebut akan menampakkan ciri-cirinya. Noda-noda gelap disitu mulai dapat dikenali. Batasnya terlihat lebih tajam dan noda-noda kecil tampak di antaranya. Akhirnya muncullah saat langka ketika udara di atas sana tenang. Bola kabur tadi tiba-tiba menjadi tajam dengan ratusan ditil kecil yang beraneka ragam dan begitu banyak sehingga tidak mungkin diingat. Lalu tiba-tiba semuanya lenyap. Tinggallah si pengamat yang merasa telah kehilangan pandangan yang memesonakan. Dengan buru-buru ia akan menggambar beberapa ditil, lalu menunggu lagi munculnya kembali ketampakan sempurna yang jarang terjadi.

Fotografi paling baik pun tidak pernah menangkap saat langka sekejap ini, sebab mustahillah meramalkan kapan ketampakan sempurna yang pendek ini akan terjadi dan melakukan pemotretan pada saat yang tepat. Oleh karena itu sebelum tahun 1965, yaitu sebelum pesawat antariksa Amerika Serikat Mariner IV menghasilkan gambar Mars yang menaknjubkan dengan pengambilan jarak dekat yang pertama, pengetahuan menditil yang terbaik tentang permukaan Mars merupakan hasil kerja tekun selama bertahun-tahun yang dilakukan oleh teleskop oleh banyak pengamat yang sangat terlatih. Walaupun gambar mereka jauh lebih menditil daripada foto-foto yang ada, namun tidak senantiasa tepat atau cocok satu sama lain.

Dari ketidakcocokan inilah timbul perdebatan yang hangat tentang adanya terusan-terusan yang mungkin merupakan episode paling konyol dalam sejarah astronomi modern. Pada tahun 1877 ahli astronomi Italia Giovanni Schiaparelli mengumumkan bahwa ia telah melihat jaringan garis lurus tipis di Mars. Ia menyebutnya canali dalam bahasa Italia yang artinya “terusan“. Ia tidak mengatakan bahwa terusan itu adalah buatan, dan ia mungkin terperanjat ketika ahli astronomi Amerika Percival Lowell menegaskan bahwa terusan-terusan itu adalah canali atau terusan irigasi hasil galian penghuni berperadaban tinggi di Mars untuk mengalirkan air dari tudung es kutub yang sedang mencair. Ia menjelaskan dalam rentetan artikel, buku dan kuliah bahwa penduduk Mars berada dalam kesulitan. Planet mereka sedang mengering, dan mereka harus menggunakan air yang tersisa sebaik-baiknya.

Makin lama pengamatan Lowell, makin banyak terusan yang dilihatnya; peta-petanya yang lebih akhir penuh jaringan terusan bersimpang siur. Garis-garis itu lebih daripada terusan, katanya. Saluran air sendiri terlalu sempit untuk dilihat, tetapi pada kedua tepinya terdapat ladang-ladang tempat para penghuni Mars memelihara tanaman yang mereka aliri. Pada bagian tertentu tempat garis-garis berpotongan terletak oase-oase luas, yang mungkin pusat peradaban Mars.

“KOTA-KOTA” DI MARS

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.35

Mars : Part - 2

Konsepsi menyesatkan ini segera memperoleh pendukung yang bersemangat. Mereka melengkapi Mars dengan segala sesuatu yang semestinya terdapat pada sebuah planet beradab, misalnya kapal di terusan, kota yang permai di oase-oase itu serta bangunan teknik besar untuk mengalirkan air. Tetapi banyak juga orang yang tidak sependapat dengan Lowell dan tidak melihat sesuatu pun di Mars kecuali bercak-bercak gelap-terang yang tidak dilintasi garis macam apa pun, lurus maupun tidak lurus. Beberapa di antara pengamat visual yang berpengalaman mengambil jalan tengah. Pada saat ketampakan sangat jernih kadang kala mereka melihat banyak ditil berbercak di Mars, tetapi tidak mengetahui apa itu sebenarnya. Mereka menduga bahwa Lowell dan pengikut-pengikutnya telah melihat sekilas ditil-ditil itu pula pada batas kemampuan lihat mereka dan membiarkan mata serta imaginasi mereka mengait-ngaitkannya menjadi “terusan-terusan“ yang lurus.

Semangat pendukung konsep terusan itu padam setelah peranti yang lebih baik dan alat penafiran yang lebih cermat menunjukkan bahwa keadaan di Mars sangat tidak cocok bagi peradaban tinggi seperti yang ada di bumi. Namun gambar yang dikirim oleh Mariner IV pada tahun 1960-an dan 1970-an oleh pesawat antariksa menunjukan bahwa Mars lebih penuh ditil daripada perkiraan Percival Lowell.

Lalu apa yang terdapat di Mars? Penglihatan kasar dari bumi pun memperlihatkan aneka keadaan yang berubah-ubah. Beberapa macam awan terdapat dalam atmosfer Mars. Terjadi perubahan tahunan musim, yang tampaknya mengubah ciri daerah luas. Topografinya pun mungkin sama beranekanya dengan topografi bumi.

Dari bumi, tampak tiga macam permukaan. Yang paling mencolok adalah tudung kutubnya yang putih cemerlang. Tudung selatan lenyap sama sekali selama musim panas di belahan selatan, tetapi tudung utara selalu masih memperlihatkan bercak kecil pada giiran surutnya. Pola yang mencolok berikutnya adalah daerah tak beraturan berwarna jingga kuning tua yang meliputi dua pertiga planet. Daerah itu biasanya disebut gurun, walaupun para pengamat terdahulu kerap kali memberinya nama indah seperti Elysium dan Eden. Di antaranya terdapat bercak-bercak lebih gelap yang disebut laut atau danau seperti mare di bulan. Daerah ini kadang kala tampak hijau, tetapi pengukuran yang cermat menunjukkan bahwa warnanya terutama kemerah-merahan seperti warna daerah sekitarnya yang cerah, tetapi lebih gelap. Itulah bagian Mars yang menunjukkan perubahan musiman yang paling menarik dan telah memperoleh perhatian paling bersemangat dari para ahli astronomi.

Karena poros Mars miring dengan sudut yang hampir sama dengan sudut kemiringan poros bumi, daerah kutub Mars berganti-ganti terkena cahaya matahari sebagaimana kutub bumi sehingga kedua belahannya berganti-ganti mengalami musim panas dan dingin. Tetapi Mars memerlukan 687 hari untuk mengitari matahari. Ini berarti bahwa setahun di sana panjangnya kurang dari dua tahun di bumi, dan musimnya dua kali lebih panjang daripada musim bumi.

MUSIM SEMI YANG TERBALIK

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.34

Mars : Part - 3

Musim mengubah permukaan Mars. Para ahli astronomi berpikir bahwa barangkali perubahan ini sama dengan yang terjadi di bumi. Bila musim semi tiba di Belahan Bumi Utara, salju yang meliputi Amerika Utara dan Eropa serta Asia bagian utara menyusut berangsur-angsur dan surut ke arah kutub. Segera daratan berubah warnanya dari selatan ke utara ketika rerumputan tumbuh dan pepohonan peluruh bersemi. Di Mars perubahan agak serupa terjadi tetapi arahnya terbalik. Pada saat salah satu tudung kutubnya menyusut, suatu “gelombang penggelapan“ bergerak dari tepinya yang menyusut menuju khatulistiwa Mars dengan kecepatan sekitar 30 kilometer per hari. Gelombang ini lambat laun menyebabkan makin gelapnya daerah yang sudah gelap di lingkungan yang terang. Ada godaan untuk berkesimpulan bahwa air hasil penyusutan tudung tersebut telah merangsang vegetasi Mars untuk tumbuh dengan cepat pada musim semi. Pengamat yang penuh khayal hampir dapat mendengar kicau burung Mars pada saat itu.

Gagasan menarik tentang vegetasi yang tumbuh subur tadi mendapat banyak serangan. Air sangat langka di Mars. Memang tudung kutub itu, sekurang-kurangnya sebagian, mungkin terdiri dari sebuah bentuk air beku hasil endapan langsung dari uap air seperti jalad yang melekat di jendela pada musim dingin di bumi. Tetapi jalad di Mars tidak akan mencair seperti air cair, sebab tekanan atmosfer begitu rendah sehingga es akan langsung menjadi uap air tanpa mencair terlebih dahulu, tepat seperti “es kering“ yang secara langsung berubah menjadi karbon dioksida di bumi. Pertumbuhan vegetasi Mars pada musim semi, kalau memang terjadi, harus mengandalkan uap air yang datangnya musiman, bukannya air seperti hujan atau limpahan.

Atmosfer Mars memiliki lain-lain ciri yang tidak sesuai bagi bentuk kehidupan yang kita kenal. Telah lama diketahui bahwa atmosfer disana sangat tipis, tetapi ketiga pesawat Mariner membuktikan bahwa atmosfer Mars lebih tipis daripada yang diduga semula. Ketika pesawat tadi mulai masuk daerah di balik Mars, sinyal-sinyal radionya yang dipancarkan ke bumi sebentar melewati atmosfer Mars yang makin jauh makin mampat. Pengukuran terhadap gelombang radio yang makin melemah itu memungkinkan para ilmuwan menentukan tekanan atmofer di permukaan. Ternyata tekanannya kurang dari satu persen tekanan di bumi dan tampaknya atmosfer Mars terdiri dari karbon dioksida dan sedikit uap air yang menurut keyakian para ilmuwan berubah-ubah konsentrasinya dari tempat ke tempat, tetapi tidak pernah sebanyak yang terdapat di gurun bumi yang paling kering pun. Tidak ada oksigen atau ozon yang terdeteksi dalam atmosfer Mars. Maka cahaya ultraviolet matahari yang mematikan kuman dan benih – yang ada di bumi diserap oleh oksigen dan ozon – mungkin mencapai permukaan Mars dengan kekuatan hampir penuh.

Walaupun atmosfer Mars dapat mendukung awan, yang beberapa bagian berupa hablur es dan lainnya berupa debu kekuning-kuningan, atmosfer tersebut tidak cukup mengandung gas penjebak panas untuk menahan banyak panas matahari. Atmosfer Mars tidak merupakan “rumah kaca” yang seefektif atmosfer bumi. Di samping permukaan yang kering, keadaan ini menyebabkan panas matahari yang hanya sedikit itu lepas dengan mudah setelah mencapai Mars. Suhu pada berbagai daerah dapat diukur secara terpisah dengan sinar inframerah dan tidak ada tempat yang iklimnya baik menurut ukuran manusia. Di dekat khatulistiwa suhu permukaan tengah hari dapat naik hingga 20OC atau hampir 30OC, tetapi pada malam hari dapat turun hingga -85OC. Pada musim dingin kutub dapat lebih dingin lagi. Menurut astronomi radio sekitar 30 sentimeter di bawah permukaan suhu rata-rata hampir selalu tetap -60OC. Fakta bahwa panas permukaan hanya dapat masuk beberapa sentimeter ini menunjukkan bahwa mungkin Mars mempunyai lapisan debu penyekat yang agak mirip debu bulan.

PERMUKAAN BERKAWAH-KAWAH

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.34

Mars : Part - 4

Keadaan-keadaan tersebut – kekeringan ekstrem yang dingin, sinar ultraviolet kuat, ketiadaan oksigen – sangat tidak cocok bagi bentuk-bentuk kehidupan tinggi yang kita kenal dan keadaan tersebut tidak memberikan harapan lebih baik setelah Mariner IV memperoleh pandangan dekat pertama kali ke permukaan Mars. Ketika pesawat antariksa ini melintas pada jarak 9.900 kilometer dari Mars, gambar-gambar yang diambilnya menunjukkan adanya bangun-bangun bulat yang tidak diragukan lagi adalah kawah akibat tumbukan meteorit seperti yang terdapat di bulan. Ukuran kawah itu bermacam-macam, mulai dari yang garis tengahnya lima kilometer sampai 120 kilometer, dan rupanya umurnya pun berbeda-beda. Kawah yang terbesar hanya setengahnya berbibir; sedangkan kawah lainnya telah terkikis, walaupun pengikisan ini mungkin bukan akibat tumbukan meteorit yang terjadi kemudian. Banyak kawah merupakan lekuk bulat dangkal yang tidak menampakkan bibir menonjol, dan rupanya telah terisi hampir rata dengan tanah di sekitarnya.

Memang, beberapa ahli astronomi telah meramalkan adanya kawah meteorit di Mars, tetapi pada umumnya mereka tercengang juga ketika melihat gambar-gambar itu. Lebih dari 70 kawah terlihat jelas pada daerah yang luasnya kira-kira satu persen permukaan Mars. Ini berarti di seluruh planet terdapat 100.000 kawah lebih yang ukurannya kurang lebih sebesar itu. Dalam hal ini permukaan Mars mirip bulan. Menurut pengetahuan permukaan bulan yang tak berudara dan tak berair sudah sangat tua, mungkin sudah berumur dua hingga 4,5 milyar tahun. Bentuknya tetap lestari seperti itu karena tidak terjadi erosi baik oleh angin maupun air sepanjang masa. Bila permukaan Mars ternyata seperti itu juga, demikian menurut salah satu jalan pikiran lama, tentunya umurnya juga telah setua itu. Dan bila di situ tidak ada tanda-tanda erosi air, tentunya Mars pun belum pernah memiliki atmosfer atau air cair yang cukup. Tanpa atmosfer dan air, demikian lanjutan penalarannya, planet tersebut tidak mungkin pernah menunjang kehidupan sepanjang sejarahnya.

Kesimpulan pesimis tadi segera memperoleh tentangan. Mars berada dalam lingkungan buruk dalam tata surya tempat batuan yang berterbangan merupakan bahaya yang kerap terjadi. Di antara orbit Mars dan orbit Yupiter terletak zona asteroid tempat ribuan benda batuan dan logam beredar mengitari matahari. Barangkali ada sekitar 50.000 asteroid yang cukup besar sehingga dapat dilihat dengan teleskop besar. Kebanyakan benda ini berada di zonanya sendiri, tetapi beberapa di antaranya bergerak dalam orbit yang melewati daerah-daerah lain dalam tata surya.

Bersama asteroid yang tampak itu bergerak jutaan meteorit yang terlampau kecil untuk dilihat tetapi cukup besar untuk menimbulkan kawah besar pada planet manapun yang ditumbuknya. Bumi dan bulan telah mengalami banyak tumbukan serupa itu dan Mars, yang letaknya lebih dekat jalur asteroid, tentunya lebih banyak mengalaminya. Keeping-keping pecahan asteroid akibat tumbukan antara sesamanya menumbuk Mars dan menambah bopeng pada permukaannya yang sudah berkawah-kawah itu. Menurut taksiran, selama jangka waktu mana pun Mars telah ditumbuk oleh 25 kali lebih banyak meteorit daripada yang menumbuk bulan dalam jangka waktu yang sama. Bila permukaan Mars benar-benar tua dan bebas dari erosi yang berati, maka permukaannya tentulah lebih berbopeng daripada permukaan bulan. Karena kenyataannya tidak demikian, erosi tentu telah berlangsung sangat efektif di Mars dan permukaannya tentulah lebih muda daripada permukaan bulan. Tentu ada sesuatu yang mengikis kawah-kawah tua hasil bentukan sewaktu Mars masih muda, entah itu air entah angin. Walaupun sekarang tidak memiliki samudera maupun atmosfer yang cukup tebal, barangkali dahulu Mars memiliki keduanya sehingga lebih memungkinkan perkembangan kehidupan daripada sekarang.

Adanya keidupan di Mars masih diperdebatkan ketika Mariner VI dan VII melintas dekat Mars (pada jarak 3.410 dan 3.408 kilometer) atau bahkan pada waktu Mariner IX yang mengorbit maupun pesawat Rusia lewat dua kali sehari pada jarak 1.280 kilometer. Kendaran ini memancarkan banyak informasi sangat menditil ke bumi. Sebagian besar permukaan memang berkawah-kawah, walaupun tidak serapat “tanah-tanah tinggi” lama di bulan. Tetapi yang paling mencengangkan ialah adanya daerah-daerah luas yang sedikit kawahnya atau bahkan tak berkawah.

Mungkin yang paling jelas adalah suatu daerah luas berwarna pucat yang tampak dari bumi dan dinamakan Hellas. Serah ini terbukti hampir polos. Tampaknya Hellas adalah suatu daratan bergaris tengah 1.900 kilometer yang terpisah dari daerah berkawah-kawah oleh suatu lembah sempit dan punggung-punggung. Dataran ini tidak menyerupai “laut” bulan yang relatif mulus, tetapi ditaburi kawah-kawah kecil.

Pada bagian-bagian lain Mars, permukaan berkawah-kawah tadi mendadak berubah menjadi medan tak berkawah yang berbukit-bukit. Salah satu gambar memperlihatkan pemandangan seakan-akan ada gua besar bawah permukaan yang runtuh langit-langitnya sehingga terbentuk suatu “lembah amblasan”. Di dasarnya terdapat garis-garis tipis mirip jejak-jejak ternak dalam penglihatan penumpang pesawat udara. Pastilah tidak ada ternak yang digembalakan di lembah Mars itu, tetapi baik “jejak” itu maupun lembahnya sendiri tak dapat dijelaskan dengan mudah, demikian juga bengkakan besar pada khatulistiwa Mars yang dideteksi Mariner IX.

RAHASIA YANG BARU DITEMUKAN

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.33

Mars : Part - 5

Seperti yang kerap kali terjadi dalam ilmu, gambar jelas kiriman Mariner lebih banyak memunculkan rahasia daripada memecahkannya. Walaupun banyak kawahnya, Mars tidaklah seperti bulan. Planet itu juga tidak menyerupai bumi, namun beberapa bagian permukaannya tampak masih muda, segar, dan penuh rahasia baru.

Ada satu rahasia yang tetap memesona. Tak satu Mariner pun menjelaskan “gelombang penggelapan”, yaitu perubahan musiman yang pernah mendukung teori adanya kehidupan di Mars. Pesawat itu terlampau cepat melintasi Mars hingga tidak mampu mengamati perubahan warna atau kegelapan yang lambat.

Mariner VII dengan gemilang mengambil gambar tudung putih Mars yang ternyata tidak rata dan polos seperti tudung es Antartik di bumi. Di situ terdapat kawah-kawah dan ketidakteraturan lainnya. Ada perubahan kecerlangan yang misterius. Beberapa tanda yang menyerupai riak mungkin adalah awan setempat. Tepi tudung kutub itu tidak rata, dan memperlihatkan ditil-ditil halus putih yang mencolok di tengah zona yang lebih gelap. Seperti yang diduga, lereng kawah yang menghadap matahari lebih “bersalju“ daripada lereng yang terlindung bayangan.

Masih diragukan apakah salju Mars itu air yang menghablur seperti salju bumi. Mariner telah membawa peralatan untuk mengukur suhu permukaan Mars. Di dekat khatulistiwa suhunya naik hingga 15O atau 25OC, tetapi di kutub selatan suhunya turun sampai -123OC. Lebih kurang pada suhu inilah karbon dioksida membeku menjadi hablur di bawah tekanan atmosfer Mars. Maka boleh jadi seluruh atau sebagian besar tudung putih Mars itu es kering (karbon dioksida padat).

SAMUDERA YANG LENYAP

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.32

Mars : Part - 6

Kemungkinan adanya kehidupan di Mars pada masa silam tergantung pada sejarah awalnya yang masih gelap. Dugaan tentang ini tentu hanya samar-samar saja. Segera setelah terbentuk, Mars, sebagaimana semua planet awal lainnya, diselubungi atmosfer purba yang terdiri dari gas-gas “pereduksi” penuh hidrogen, seperti misalnya amoniak dan metan. Pada tahap lebih lanjut, rupanya gas-gas lain, termasuk uap air, yang tidak diketahui jumlahnya telah keluar dari dalam. Bila atmosfer bagian atas Mars selalu cukup rendah suhunya seperti perkiraan orang sekarang, tidak ada gas kecuali hidrogen ringan yang dapat lepas begitu saja ke antariksa, seperti gas buang. Mars begitu jauh dari matahari sehingga bagian atas atmosfernya mungkin tidak cukup panas untuk mempercepat molekul yang lebih berat hingga mencapai kecepatan lepas. Lalu, apa gerangan terjadi pada gas itu?

Dengan dasar petunjuk Mariner IV timbullah hipotesis yang diharapkan dapat menjelaskan apa yang terjadi pada uap air itu. Peralatan pesawat itu tidak mendeteksi medan magnet di Mars. Dengan demikian barangkali planet itu tidak mempunyai inti besi, dan ini dapat berarti bahwa besi dalam bahan pembentuk Mars tidak mengendap ke pusat planet. Bila besi ini terdapat banyak dipermukaan atau dekat permukaan, maka mungkin keadaan itulah sebab utama lenyapnya uap air.

Pada tahap pertama proses ini, uap air di dalam atmosfer terurai menjadi oksigen oleh sinar ultraviolet matahari. Hidrogen yang terlepas segera membubung ke antariksa. Pada tahap berikutnya oksigen bergabung dengan besi dan dan membentuk senyawa serupa karat. Proses ini menyerap oksigen dan mencegah terkumpulnya di atmosfer. Akibatnya atmosfer Mars tidak pernah mengandung cukup banyak oksigen seperti di bumi untuk melindungi air yang ada agar tak terurai oleh sinar ultraviolet. Dengan hilangnya air cair dari permukaan, uap air menipis dan langka di atmosfer sehingga kemampuan atmosfer menahan panas pun berkurang. Mars makin dingin dan mencapai keadaannya sekarang sebagai planet yang hampir beku tanpa oksigen bebas dan tanpa air terbuka dengan sedikit uap air dalam jumlah tak menentu.

Teori karat dalam sejarah Mars didukung hasil pengamatan. Bila dipantulkan oleh permukaan Mars, cahaya matahari mengalami berbagai perubahan akibat pengaruh bahan yang dijumpainya. Bahan di bumi yang dapat mengubah cahaya dengan cara paling serupa adalah limonit, yaitu besi oksida yang bergabung secara kimia dengan air. Bahan jingga merah suram ini bila dibubuk halus sangat mirip debu gurun Mars.

Pengaruh gabungan sinar ultraviolet dan besi yang mengarat itu mungkin sangat lambat, maka siapa yang cenderung berpikir bahwa keadaan Mars sekali lagi cocok untuk munculnya kehidupan dapat menoleh dengan penuh harapan ke masa muda planet itu. Pada saat itu mungkin terdapat cukup banyak air di permukaan dan iklimnya cukup hangat untuk menjaga adanya sedikit-sedikit air cair. Bila amoniak, metan dan gas pereduksi lainnya terdapat dalam atmosfer Mars, maka matanglah keadaan untuk timbulnya kehidupan, seperti di bumi dahulu.

Jenis kehidupan apa pun yang muncul di Mars akan ber-evolusi secara lambat melalui seleksi alam untuk bertahan pada lingkungan yang berubah. Kehidupan mampu bertahan dengan banyak cara. Andaikan oksigen tidak pernah ada di atmosfer, makhluk hidup dapat tumbuh dan berkembang tanpa itu, seperti yang terjadi pada banyak organisme bumi. Bila air cair makin berkurang, organisme Mars mungkin masih mampu menyimpan air dalam jaringan dan menambah persediaan berharga itu dengan menyerap air yang berbentuk lain di lingkungannya.

SERANGGA DENGAN ZAT ANTI BEKU

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.32

Mars : Part - 7

Makhluk hidup mampu beradaptasi dengan keadaan ektrem. Sebagai misalnya, banyak organisme renik bumi yang dapat menahan suhu berapa pun rendahnya dalam keadaan rihat. Beberapa serangga melindungi diri dari kebekuan musim dingin dengan gliserol, yaitu zat anti beku yang biasa dipakai dalam radiator mobil. Tidak ada alasan yang meyakinkan mengapa organisme Mars tidak mengeluarkan sedemikian banyak zat anti beku ke jaringan tubuhnya sehingga dapat hidup dan berbiak dalam suhu yang luar biasa dinginnya di Mars.

Adaptasi yang lebih radikal juga mungkin bagi organisme yang ternyata berasal mula di Mars dan berevolusi di sana. Kalau bubukan halus limonit merupakan suatu kandungan penting pada gurun Mars, dapat dibayangkan bahwa bubukan itu mungkin merupakan penunjang kehidupan. Setiap molekul besi oksida dalam limonit bergabung dengan satu molekul air. Organisme apa pun yang telah menemukan cara menyerap air dari limonit dapat hidup di gurun Mars seakan-akan di samudera.

Kemungkinan bahwa Mars dapat menunjang kehidupan sangat menarik perhatian ilmuwan yang bekerja dalam bidang-bidang di luar astronomi. Banyak ahli biolongi merasa bahwa ilmunya memiliki jangkauan lebih luas daripada hanya mempelajari kehidupan di bumi. Pada tingkat biokimia, organisme bumi yang sangat beraneka ragam itu lebih banyak memiliki kesamaan daripada perbedaan. Orang percaya bahwa senuanya telah diturunkan oleh satu leluhur yang dasar kimianya tetap dipertahankan hingga sekarang. Semua organisme itu menyimpan kode informasi yang memungkinkan berkembang biak dalam gelungan molekul besar, yakni asam nukleat. Semua menggunakan protein enzim yang sama untuk meningkatkan dan mengendalikan proses kimia yang berlangsung dalam jaringan-jaringannya. Belum pernah ditemukan satu penyimpangan pun dari pola umum tersebut di bumi, walaupun sebenarnya ada jutaan senyawa kimia sangat serupa yang dapat digunakan.

Mengapa begitu khusus? tanya ahli biologi. Apakah hanya terdapat satu jenis kehidupan yang mungkin ada, atau mungkin terdapat pula jenis-jenis lain? Barangkali jenis yang sekarang ada di bumi adalah satu-satunya yang dapat bertahan dari antara banyak jenis yang muncul pada masa awal bumi lalu punah akibat persaingan. Atau barangkali organisme tersebut telah bertahan dan berkembang bercabang-cabang karena paling dahulu munculnya di bumi empat milyar tahun yang lalu dan menciptakan keadaan yang menyebabkan saingan –saingannya tidak memperoleh tempat untuk hidup. Selama masa yang sudah lama silam itu, demikianlah renungan para ahli biologi, tentu telah tiba suatu masa genting ketika hanya ada satu jenis kehidupan saja yang ada di bumi. Andaikata leluhur pertama, yakni Adam renik primitif yang paling awal ini, telah terbunuh, misalnya oleh tumbukan dengan suatu sinar kosmik, mungkinkah semua organisme yang hidup di bumi modern ini akan mempunyai leluhur lain, dasar kimia lain dan penampilan serta perilaku lain?

Pertanyaan filosofis yang luas tentang adanya lebih dari satu jenis kehidupan sudah lama tidak ditemukan jawabannya di bumi, dan barangkali tidak akan pernah terjawab. Penciptaan bentuk kompleks kehidupan di dalam laboratorium ternyata terlampau sukar. Tetapi mungkin Mars dapat merupakan laboratorium alam tempat kehidupan muncul milyaran tahun yang lalu dan mungkin keturunan organisme pertama ini sekarang masih ada untuk ditelaah. Kalau beberapa organisme renik sederhana dapat ditemukan, maka dapatlah itu dijadikan contoh jenis kehidupan yang dicari. Bila organisme ini ternyata mempunyai sifat kimia yang seperti yang dipunyai oleh kehidupan di bumi, dan bila kita yakin bahwa tak terjadi pencemaran biologis pada Mars, penemuan itu akan memperluas cakrawala biologi. Akan terbukti bahwa kehidupan dapat mempunyai pengaruh yang sangat luas karena dapat mengubah bahan yang tidak hidup menjadi berbagai bentuk yang berdiri sendiri. Beberapa di antaranya mungkin dapat hidup dalam keadaan yang sangat berbeda di bumi.

LINGKUNGAN RENIK

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.31

Mars : Part - 8

Penemuan kehidupan di Mars akan merupakan peristiwa yang mendalam artinya, tetapi kiranya tidak mudahlah menemukannya. Kamera yang diorbitkan, betapapun tajamnya, hampir pasti tidak akan menangkap organisme renik yang hidup di bawah permukaan. Kehidupan di Mars mungkin terbatas di tempat-tempat tertentu, yaitu di lingkungan mikro yang keadaannya sangat cocok bagi kehidupan. Tidak mustahil bahwa ada air dalam keadaan beku di bawah permukaan; gurun-gurun merah itu mungkin samudera beku yang tertutup debu. Karena suhu di dalam Mars tentu lebih panas, maka es itu akan berubah menjadi air cair pada kedalaman tertentu di bawah permukaan. Bila memang demikian halnya, tiap gangguan yang kuat, misalnya ledakan gunung api, tumbukan meteorit atau gempa Mars yang dasyat, dapat berakibat lepasnya air atau uap air sehingga terciptalah suatu “bidang panas” lembab yang sangat cocok bagi kehidupan. Suatu pesawat antariksa yang mengorbit dan dilengkapi dengan peralatan untuk mengukur suhu dan uap air mungkin akan mendeteksi lingkungan mikro seperti itu.

Selanjutnya, untuk menentukan adanya kehidupan di Mars diperlukan pendaratan kendaraan tak berawak di sana. Pesawat pertama, Mars 3, didaratkan Uni Soviet pada bulan Desember 1971, tetapi alat itu bungkam setelah mengirimkan sinyal dalam waktu kurang satu jam. Penyelidikan ilmiah lebih rumit pada planet merah itu dijadwalkan untuk akhir tahun 1970-an, ketika Proyek Viking mulai. Pada misi pertama, dua kapsul akan mendarat lunak pada tempat yang ditentukan menurut data dari Mariner IX dan pesawat Rusia. Kapsul ini membawa seismometer, detektor air, kamera, magnet, pengumpul percontoh tanah dan peranti eksperimen pendeteksi kehidupan. Kendaraan yang mengorbit di atasnya membawa peranti untuk mensurvei tempat pendaratan dan menganalisis keadaan atmosfer Mars.

Pengetahuan lengkap tentang kehidupan di Mars mungkin baru akan diperoleh setelah ahli biologi dari bumi mendarat di sana dan menelaah lingkungan mikronya yang berbeda. Ini akan merupakan pekerjaan berat. Walaupun Mars lebih kecil dari bumi, tidak adanya samudera menyebabkan daratannya hampir seluas daratan bumi. Medannya sangat beraneka ragam. Selain banyak kawah, mungkin terdapat tanah tinggi serupa benua-benua di bumi. Astronomi radar menunjukkan titik-titik tertinggi yang menjulang 19 kilometer di atas gurun rendah, dan foto-foto dari Mariner menunjukkan banyak tanda misterius yang belum dikenali.

Penjelajahan Mars tentu juga akan menyelidiki satelitnya yang aneh, Deimos dan Phobos. Ukurannya sangat kecil dan dekatnya dengan planet induk merupakan hal unik dalam tata surya. Garis tengah Deimos kira-kira 15 kilometer dan jaraknya 24.00 kilometer dari permukaan planet. Phobos bergaris tengah 27 kilometer dan jaraknya 9.300 kilometer. Walaupun kecil, keduanya telah difoto oleh Mariner IX.

Menurut beberapa pengamatan, hal yang paling menarik pada Phobos, ialah bahwa kala edarnya tampak berkurang dengan lambat tetapi kentara. Satu-satunya penjelasan yang mungkin diterima adalah terjadinya geseran lemah dengan atmosfer Mars yang menyebabkan satelit itu berkurang energinya, lalu bergerak makin mendekati Mars dengan orbit yang makin kecil dan makin cepat. Atmosfer Mars sangat tipis, maka satelit yang dapat dipengaruhi seperti itu haruslah sangat rendah kerapatannya. Bila pengamatan itu benar ( belum ada kesepakatan tentang ini ), Phobos haruslah lebih ringan daripada benda padat apapun yang diketahui.

SATELIT MARS YANG ANEH

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.30

Mars : Part - 9

Ahli astronomi Rusia yang bernama Iosif S. Shklovsky telah mengajukan jawaban menarik atas teka-teki ini. Ia percaya bahwa Phobos itu berongga dan merupakan satelit buatan, hasil kerja penghuni Mars yang berperadaban tinggi ratusan juta tahun yang lalu. Ketika penghuni Mars mendapat kepastian bahwa mereka segera akan punah, demikian lanjutan jalan pikiran orang Rusia itu, mereka membuat satu atau dua satelit besar yang akan menjadi perpustakaan dan museum penyimpanan bekas-bekas kebesaran sejarah dan prestasi peradaban mereka yang harus punah hingga penjelajah antariksa di masa mendatang mengetahuinya. ( Pemotretan dari Mariner IX pada tahun 1971-1972 menunjukkan bahwa Phobos adalah sebongkah batu berkawah-kawah yang yang panjangnya 27 kilometer, lebarnya 21 kilometer dan tingginya 19 kilometer. Mungkin Phobos itu asteroid yang terperangkap oleh gravitasi Mars. )

Sebenarnya hanya sedikit ilmuwan ( termasuk Shklovsky ) yang sungguh-sungguh berharap akan menemukan tempat penyimpanan pengetahuan kuno yang begitu menyenangkan. Penemuan suatu makhluk cerdas dan beradab yang masih berkembang dianggap sangat tidak mungkin. Tetapi para penjelajah Mars tentu akan berusaha mencari bukti-bukti arkeologi tentang adanya peradaban yang telah lama punah. Awal suatu kehidupan di sebuah planet beserta evolusinya tidak mengenal jadwal tetap. Kehidupan dapat saja dimulai sangat awal di Mars, dan berevolusi secara lebih cepat hingga puncak peradabannya telah dicapai ratusan juta tahun yang lalu. Bahkan kalau tidak ada hal-hal hampir sehebat itu yang ditemukan di Mars, penjelajahan planet ini tetap merupakan persitiwa yang tidak ada tandingannya dalam sejarah.