Sunrays

Blogger Template by ThemeLib.com

Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label venus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label venus. Tampilkan semua postingan

VENUS YANG BERAWAN

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.29

Venus : Part - 1

Ketika sejumlah teleskop pertama diarahkan ke planet Venus pada permulaan abad ke-17, banyak orang berharap akan memperoleh penemuan besar. Venus adalah benda paling terang ketiga di langit sesudah matahari dan bulan, dan diantara semua planet, Venus adalah yang paling dekat dengan bumi. ahli astronomi waktu itu sudah mulai percaya bahwa Venus adalah planet yang menyerupai bumi. Oleh karena itu mereka berharap akan melihat hal-hal yang menarik, mungkin “laut” atau “benua“, bahkan mungkin penghuninya.

Namun Venus tidak memperlihatkan hal-hal seperti itu sehingga sungguh mengecewakan para pengamatnya. Venus mengalami berbagai fase seperti bulan karena orbitnya yang terletak antara bumi dan matahari menyebabkan berubah-ubah luas setengah bola yang tampak selama disinari. Tetapi perubahan fase itu kiranya merupakan satu-satunya hal yang menarik yang dapat dilihat. Venus tidak mempunyai satelit seperti Yupiter, tidak mempunyai cincin seperti Saturnus, dan tidak mempunyai tudung es seperti Mars. Yang terlihat dengan bantuan teleskop hanyalah selubung awan cerah kekuning-kuningan yang secara efektif menyelimuti permukaannya. Para ahli astronomi segera bosan mengamati selubung permukaan yang tak bercorak itu, dan banyak diantara mereka tidak lagi mengamati Venus karena menganggap planet itu tak berharga untuk penanganan lebih lanjut.

Selubung awan merupakan penghalang pengamatan dengan teleskop optik, tetapi Venus sekarang bukan lagi teka-teki yang tidak mungkin terjawab. Sejak tahun 1956 telah banyak sekali hal yang dipelajari tentang atmosfer serta awannya, bahkan juga tentang cuaca dan topografi permukaannya yang tersembunyi. Alat-alat baru yang peka diperlukan untuk menggali petunjuk samar-samar dari planet yang berselubung awan itu, dan proses berpikir yang cermat diperlukan untuk menafsirkan artinya. Kisah penyelidikannya menyerupai cerita detektif, dan penemuan-penemuan tentang Venus merupakan keberhasilan besar dalam astronomi modern.

Pengamatan visual selama berabad-abad memberikan data berharga yang terkumpul sedikit demi sedikit kepada para detektif Venus. Orbit Venus (yang jauhnya kira-kira 108 juta kilometer dari matahari) mudah dihitung dari pengamatan berulang-ulang, tetapi massanya sulit ditentukan. Massa sebuah planet dihitung dari pengaruh gravitasinya. Cara yang paling mudah ialah dengan mengukur jarak dan kala edar sebuah satelitnya, dan selanjutnya kedua angka itu dimasukkan dalam rumus yang diturunkan dari hukum gravitasi Newton. Dengan demikian massa planet induknya pun dapat dihitung. Tetapi Venus tidak memiliki satelit. Oleh karena itu massanya harus dihitung dari pengaruh garvitasinya terhadap benda-benda lain. Ukuran planet ini pun sulit diketahui. Karena yang dapat dilihat dari bumi hanyalah selubung awan yang ketinggiannya dari permukaan Venus tidak diketahui, maka garis tengah Venus tak dapat diukur dengan meyakinkan.

Dari sifat atmosfernya, ketinggian awan Venus dapat diperkirakan, dan garis tengahnya pun dapat ditentukan dengan cukup tepat. Ternyata Venus dapat dikatakan saudara kembar bumi dalm hal ukurannya. Garis tegahnya sedikit lebih kecil daripada garis tengah bumi pada katulistiwanya (kira-kira 12.100 kilometer, sedangkan garis tengah bumi 12.756 kilometer). Massanya 81,4 persen massa bumi; itu berarti bahwa kerapatannya lebih rendah. Selain awannya yang rapat tanpa sela, atmosfer Venus cukup tebal sehingga terlihat jelas, sekalipun hanya dengan pengamatan visual. Ketika Venus berada di antara bumi dan matahari, permukaannya yang tersinari tampak sebagai sabit tipis, dan kedua ujung sabit tampak memanjang menjadi cincin cahaya redup yang melingkari seluruh planet. Ini disebabkan oleh atmosfer di atas awan yang menyebarkan cahaya matahari di sekeliling planet.

Kebanyakan pengamatan dengan teleskop biasa ternyata hanya menyingkap sedikit bantuan bagi para detektif Venus. Beberapa pengamat melihat bayang-bayang lemah awannya, tetapi lainnya tidak melihat apa-apa. Karena tidak ada tanda-tanda tetap yang tampak selagi berputar bersama planet, perputaran Venus tak dapat diukur, dan kedudukan kutub serta katulistiwanya tetap tak diketahui.

LAUTAN AIR SODA

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.28

Venus : Part - 2

Pemecahan besar dalam kasus planet berselimut awan tersebut terjadi pada tahun 1932, ketika spektroskopi memberikan petunjuk adanya sejumlah besar karbon dioksida dalam atmosfernya. Beberapa hipotesis yang lebih baik dikemukakan berdasarkan petunjuk tunggal ini, termasuk konsep yang menarik bahwa planet tersebut diliputi air soda, atau barangkali minyak. Namun tidak ada informasi yang meyakinkan tentang permukaan tersembunyi itu sebelum teknik baru astronomi radio memperoleh cara pengukuran suhu di bawah awan.

Suhu selimut awan itu sendiri telah diukur dengan dua cara yang berlainan, Venus lebih dekat dengan matahari bila dibandingkan dengan bumi dan radiasi matahari yang diterimanya dua kali lebih banyak, tetapi awannya demikian cemerlang sehingga memantulkan 70 persen cahaya matahari ke antariksa. Dengan berpegang pada fakta itu dan dengan menganggap bahwa cahaya matahari yang tidak dipantulkan diserap awan, dan hasilnya ialah -40O C. Pengukuran langsung dengan cahaya inframerah menunjukkan bahwa suhu awan itu memang sangat dekat dengan suhu teoritis. Bila ada kandungan air pada suhu tersebut, tentulah berbentuk hablur es.

Kedua taksiran tentang suhu awan itu cocok satu sama lain, tetapi tidak memberi petunjuk tentang keadaan di bawah awan. Pada tahun 1956 para ahli astronomi radio mendeteksi gelombang mikro tiga sentimeter yang datang dari Venus. Hanya sedikit saja zat yang menyerap gelombang ini. Maka gelombang tersebut mungkin dapat menembus atmosfer maupun awannya. Gelombang tiga sentimeter ini tampaknya berasal dari permukaan permukaan yang tersembunyi itu. Karena intensitas radiasi dapat memberitahukan suhu sumbernya, maka perhitungan segera menunjukkan bahwa permukaan Venus, sebagaimana ditunjukkan oleh gelombang mikro tadi, paling sedikit memiliki suhu 315OC. Pengamatan lebih lanjut bahkan menunjukkan adanya suhu yang lebih tinggi. Di beberapa tempat, permukaan Venus tentulah cukup panas hingga memijar.

Inilah gambaran yang mengejutkan: sebuah planet merah membara terbungkus oleh awan es! Para detekif Venus menghela nafas panjang dan mulai berpikir bahwa planet itu mempunyai atmosfer yang tebal, sedangkan lapisan bawahnya sangat panas dan berada di atas permukaan yang membara. Beberapa ilmuwan mempunyai gagasan lain. Mereka berspekulasi bahwa gelombang mikro itu mungkin tidak berasal dari permukaan, melainkan dari ionosfer Venus, beberapa kilometer di atas selubung awan. Pada ketinggian itu cahaya ultraviolet matahari serta partikel berenergi tinggi melepaskan elektron dari atom-atom gas dan membentuk partikel bermuatan yang disebut ion. Gas semacam ini dikatakan terionisasi, dan memancarkan gelombang mikro bila pertikelnya yang bermuatan listrik itu tarik-menarik atau tolak-menolak. Kalau dapat ditunjukkan bahwa ionosfer Venus mengandung ion seribu kali lebih banyak bila dibandingkan dengan ionosfer bumi, maka pemancaran gelombang mikro tiga sentimeter atau lebih berasal dari situ, dan bukan dari permukaan planet panas yang berada jauh di bawahnya.

Jika demikian, permukaan merah membara tadi barangkali hanya ilusi saja. Perhitungan lebih lanjut atas suhu Venus dapat dilakukan dengan menelaah gelombang mikro yang jauh lebih pendek, yaitu radiasi yang panjang gelombang sekian persepuluh sentimeter yang juga berasal dari Venus. Penghitungan ini dilakukan berdasarkan anggapan bahwa pancaran tadi berasal dari atmosfer bawah dan dapat menembus ionosfer. Suhu bagian bawah atmosfer yang dideduksikan dengan cara itu adalah sekitar 77OC, dan suhu permukaan yang sesungguhnya menurut dugaan juga setinggi itu. Menurut ukuran bumi, suhu itu sungguh tidak nyaman, tetapi bukannya tidak tertahankan sama sekali oleh jenis kehidupan yang berevolusi di bumi. Beberapa bagian Venus, terutama kutubnya, mungkin jauh lebih dingin dan dapat dihuni oleh jenis kehidupan seperti yang terdapat di bumi.

Tentu angan-angan manusia lebih cenderung kepada konsep “dingin“ mengenai planet itu. Generasi demi generasi orang berkhayal bahwa di bawah awannya yang cemerlang iklim Venus cocok bagi berbagai tumbuhan dan binatang. Hanya sedikit saja ahli astronomi yang mau beranggapan bahwa planet tetangga terdekat bumi ini sedemikian panas permukaannya hingga semua kehidupan disana binasa bagaikan daging yang hangus terpanggang dalam penggorengan.

Pada tahun 1962 pesawat antariksa Amerika Serikat Mariner II melakukan perjalanan 109 hari ke Venus dan mengamati planet itu dari jarak 34.500 kilometer. Di dalam pesawat terdapat peralatan yang peka gelombang mikro serta sinar inframerah, dan data yang dikumpulkan ketika pesawat mendekati Venus dikirimkan dengan radio ke bumi, yang jauhnya 60 juta kilometer.

VENUS YANG PANAS DAN VENUS YANG DINGIN

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.28

Venus : Part - 3

Untuk menentukan mana yang benar antara konsep panas dan dingin mengenai Venus diperlukan alat kunci berupa sebuah detektor. Alat ini disetel untuk menangkap gelombang yang mungkin berasal dari ionosfer planet tersebut. Detektor tadi mengukur gelombang dari dua arah lintasannya, yaitu dari lintasan langsung ke dasar atmosfer, dan dari lintasan miring lewat bagian lain atmosfer. Karena lebih panjang, lintasan yang miring itu melintasi lebih banyak lapisan ionosfer. Jadi, bila Venus memiliki ionosfer rapat seperti yang diharapkan oleh hipotesis dingin, lintasan miring akan menghasilkan lebih banyak gelombang daripada lintasan langsung. Tetapi yang diperoleh ternyata kebalikannya. Selama memayari Venus, Mariner II menunjukkan bahwa lebih banyak gelombang yang ditangkap dari arah langsung daripada arah miring. Hasil ini berarti bahwa ionosfer Venus tidak cukup rapat untuk menjadi pancaran sumber gelombang mikro, padahal lapisan pemancar gelombang mikro seperti itu diperlukan dalam paham dingin tentang Venus. Tiadanya lapisan tersebut berarti bahwa Venus tidak mempunyai permukaan dingin di bawah awannya. Sebagian besar permukaan planet tersebut hampir merah membara. Suatu perangkat peralatan yang berbeda pada Mariner V mendukung kesimpulan itu pada tahun 1967. Pada tahun yang sama pesawat antariksa Rusia Venera IV pun melepaskan sebuah kapsul ke atmosfer Venus dan melaporkan suhu melalui radio. Meskipun kapsul ini tidak mencapai permukaan Venus, penemuannya menunjukkan bahwa suhu permukaan tidak mungkin jauh lebih rendah daripada yang telah diukur sebelumnya dengan metode lain. Venera V dan IV menemui nasib yang sama dengan yang dialami pendahulunya, dan tak dapat melewati atmosfer Venus yang panas dan bertekanan tinggi itu dengan selamat. Tetapi Venera VII yang baru diluncurkan pada tahun 1970 mencapai keberhasilan yang pantas dicatat. Setelah pendaratannya yang berlangsung selama 35 menit, pesawat tersebut berhasil melakukan sentuhan pertama antara benda buatan manusia dan permukaan Venus. Selama 23 menit sesudah pesawat itu mendarat, peralatannya memancarkan sinyal radio dan melaporkan suhunya setinggi 453O sampai 495OC serta tekanan sekitar 90 atmosfer.

Tugas berikutnya bagi para detektif Venus adalah menjelaskan mengapa permukaannya sedemikian panas. Sumber panas yang paling mungkin adalah cahaya matahari dan mekanisme pengumpulan panasnya adalah “efek rumah kaca“ yang juga berlaku di bumi walaupun secara kecil-kecilan.

Nama “efek rumah kaca“ berasal dari rumah kaca tanaman, yakni sebuah peranti tepat guna untuk menyimpan energi matahari dan oleh karenanya dapat membuat suhu di dalamnya lebih tinggi daripada udara di luar. Cahaya matahari masuk lewat atap kaca dan menghangatkan tanaman serta tanah yang disinarinya. Selanjutnya, tanaman dan tanah memancarkan panas itu kembali, tetapi karena suhunya cukup rendah, maka radiasi yang dipancarkannya ke langit mempunyai panjang gelombang yang panjang. Gelombang ini ditahan oleh kaca sehingga energi panas itu tak dapat keluar dan suhu di dalam rumah kaca pun naik.

RUMAH KACA DI LANGIT

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.27

Venus : Part - 4

Di Venus peranan rumah kaca dapat dimainkan oleh atmosfernya yang tebal dan rapat – jika disitu terkandung cukup banyak zat-zat penghalang panas. Tidak ada suatu macam zat pun di dalamnya yang mempunyai efek penghalang cukup besar untuk menyebabkan permukaannya merah membara. Beberapa gelombang inframerah yang mencoba lepas dari Venus akan terhalang oleh karbon dioksida yang menurut pengetahuan orang memang terdapat dalam atmosfer Venus. Tetapi gelombang lain yang tak terhalang oleh karbon dioksida akan membawa panas keluar, kecuali kalau ada hal lain yang menghalanginya.

Uap air dapat melakukan itu, kalau memang ada di Venus. Tetapi segala usaha awal untuk mendeteksinya sama sekali gagal. Kesukaran utamanya adalah justru uap air di atmosfer bumi, yang cenderung menyembunyikan segala setiap petunjuk akan adanya air yang mungkin terlihat pada spektrum cahaya lemah matahari yang dipantulkan Venus. Kesukaran ini akhirnya diatasi dengan memasang sebuah spektrometer inframerah pada balon yang membawa ke atas hingga melampaui sebagian terbesar uap air bumi. Eksperimen ini menunjukkan bahwa atmosfer Venus memang benar mengandung uap air. Tambahan pula kapsul Rusia menunjukkan bahwa jumlah uap air di sana persis cukup untuk menahan panas selebihnya dan dengan demikian dapat menjelaskan tingginya suhu permukaan Venus. Banyaknya air di atmosfer ini menunjukkan bahwa puncak-puncak awan disana haruslah terdiri dari partikel-partikel es, bukannya debu atau bahan padat lainnya.

Pada titik subsurya (tempat cahaya matahari jatuh tegak lurus), suhu dapat naik hingga 700OC. Namun ditempat lain suhunya dapat berbeda, karena terpengaruh oleh faktor-faktor lain di samping panas matahari. Apakah daerah kutub lebih dingin? Apakah keadaannya berubah dengan berubahnya musim, atau berubahnya hari dari siang ke malam? Sebelum pertanyaan semacam itu dapat dijawab dengan teori, para detektif Venus lebih dahulu harus mengetahui laju perputaran Venus.

Cara paling mudah untuk menentukan perputaran adalah dengan mengamati tanda-tanda di permukaan yang bergerak bersama perputaran planet. Tetapi hal ini tak berlaku untuk Venus. Awan menyembunyikan semua tanda di permukaannya, sedangkan pada awan itu sendiri tidak ada tanda apa pun. Cara lain yang juga kurang berhasil adalah menggunakan spektroskop dan teleskop biasa untuk mengukur perputaran berdasarkan pergeseran Doppler. Pengukuran ini berdasarkan fakta bahwa gelombang cahaya yang dipantulkan oleh sebuah benda yang bergerak mendekati pengamat menjadi lebih pendek, sedangkan yang dipantulkan oleh benda yang menjauhi pengamat menjadi lebih panjang. Dalam kedua hal ini besar pergeseran panjang gelombang memberitahukan kecepatan mendekat atau menjauh benda itu. Bila cahaya yang dipantulkan oleh tepi bola yang bergasing, besarnya pergeseran Doppler memberitahukan kecepatan permukaan yang bergerak menuju pengamat dan yang menjahuinya, dan oleh karena itu memberitahukan laju perputaran benda itu.

Telaah spektroskopik pergeseran Doppler berhasil baik pada bintang dan kebanyakan planet, tetapi walaupun kerap kali telah dicobakan ke Venus dengan menggunakan teleskop optik terbaik di bumi, cara ini tak pernah berhasil. Cahaya matahari yang dipantulkan dari tepi bundaran planet tadi tidak menunjukkan adanya pergeseran. Hasil negatif ini menunjukkan bahwa Venus bergasing sangat lambat, bila memang bergasing. Sampai belum lama ini pendapat yang masih umum dianut adalah bahwa Venus selalu menghadapkan muka yang sama ke bumi.

Informasi positif pertama tentang perputaran Venus pada porosnya diperoleh pada awal tahun 1960-an dengan teknik astronomi radar yang berkembang cepat. Bila seberkas gelombang mikro diarahkan pada Venus, sebagian besar gemanya dari daerah sempit di pusat planet, tempat permukaannya hampir tegak lurus pada arah datangnya gelombang yang dapat diukur dengan sangat teliti menunjukkan adanya pergeseran Doppler yang kecil namun jelas. Inilah bukti yang kuat bahwa tepi planet itu bergerak. Venus memang bergasing.

PLANET YANG ARAHNYA TERBALIK

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.26

Venus : Part - 5

Cerita yang disampaikan oleh gelombang mikro itu menarik perhatian semua ahli astronomi. Kecuali Uranus, semua planet yang perputarannya telah diketahui mempunyai apa yang disebut perputaran “maju”. Artinya, arah perputaran planet tadi sama dengan arah edarnya dalam orbit di seputar matahari. Tetapi Venus berbeda. Astronomi radar membuktikan bahwa perputarannya “mundur”. Seperti roda yang berputar ke belakang, Venus bergasing dengan arah yang salah. Tidak ada yang mengetahui keanehan ini, namun para ahli astronomi menerimanya sebagai suatu rahasia baru yang menarik. Jawabannya mungkin akan memberikan beberapa kejelasan tentang cara terbentuknya tata surya.

Perputaran mundur Venus ini sangat lambat. Venus bergasing pada porosnya kira-kira satu kali dalam 243 hari bumi. Karena orbitnya di seputar matahari memerlukan waktu 224,7 hari, gabungan kedua gerak itu menyebabkan selang waktu antara matahari terbit dan matahari terbit berikutnya di Venus sekitar 118 hari bumi.

Penentuan kala perputaran Venus merupakan langkah penting bagi para detektif Venus. Ini menunjukkan kepada mereka bahwa suhu Venus tentulah berubah secara mencolok sepanjang siang dan malamnya yang panjang itu. Kenyataan memang demikian. Analisis teliti terhadap gelombang radio yang diperkirakan berasal dari bawah permukaan Venus menunjukkan bahwa suhu permukaan pada sisi yang gelap dapat turun sebanyak 400OC. Pada saat suhu di titik subsurya setinggi 700OC, suhu di titik antisurya (pusat belahan planet paling gelap) kira-kira 320OC. Kawasan kutub mungkin lebih dingin lagi: suhunya barangkali 200OC. Suhu ini diatas titik didih air di bumi (100OC pada ketinggian permukaan laut). Tetapi karena tekanan atmosfer di Venus jauh lebih besar – dan itu berarti naiknya titik didih – mungkin saja air berada dalam keadaan cair di kutubnya yang relatif dingin. Air ini tidak akan sama dengan air di lautan bumi. Mungkin air Venus lebih mirip air bergolak dalam pembangkit listrik tenaga uap yang sedang bekerja penuh.

Tanpa rentetan pendaratan “lunak” yang terkoordinasi di Venus, usaha untuk mengetahui keadaan permukaan di balik awan yang tak bercelah itu kelihataannya mustahil. Namun teknik-teknik baru yang rumit dalam astonomi radio berhasil mengumpulkan sejumlah informasi dengan cara menganalisis panjang gelombang yang dipancarkan dari permukaan. Gelombang yang lebih panjang diperkirakan berasal dari permukaan yang lebih dalam, sedangkan yang pendek berasal dari lapisan yang lebih dangkal. Gelombang ini menyingkapkan bahwa bahan yang lebih dalam memiliki suhu yang yang lebih stabil dan tidak banyak terpengaruh oleh perubahan suhu siang dan malam hari. Pada kedalaman sekitar satu meter, perubahan suhu sudah sangat kecil. Ini berarti bahwa bahan permukaan tentulah berupa penyekat panas yang baik, bahkan lebih baik daripada hampir semua batuan padat. Jadi, banyak daerah yang luas di Venus haruslah diliputi oleh bubukan debu halus, yang sifatnya sebagai penyekat sesuai dengan pengamatan tadi.

PEGUNUNGAN DI VENUS

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.25

Venus : Part - 6

Astronomi radar telah memperoleh penemuan luar biasa bahwa di permukaan Venus terdapat jajaran pegunungan dan kawah-kawah besar, atau sesuatu yang mirip itu. Benda-benda ini tidak langsung tampak seperti halnya kapal atau pesawat terbang pada layar sebuah radar militer. Venus begitu jauh hingga berkas gelombang radar akan menyebar dan tak dapat terpusat pada suatu bagian pada planet itu. Gema yang dipantulkan kembali oleh seluruh belahan planet harus dianalisis dengan cermat sebelum dapat memberikan informasi tentang keadaan terperinci di permukaan yang tersembunyi pada planet itu.

Langkah pertama dari rangkaian deduksi yang diperlukan dalam analisis ini memerlukan penentuan daerah tempat bagian-bagian berkas radar tadi dipantulkan kembali. Tugas yang kelihatannya tidak mungkin ini dilakukan dengan mengukur waktu kembalinya gema secara teliti. Gelombang yang dipantulkan oleh bagian Venus yang terdekat, yaitu di pusat belahan yang menghadap ke bumi, akan mencapai bumi lebih awal, dan diikuti oleh gelombang dari bagian lain yang lebih jauh. Tetapi tepi bundaran planet, yang jaraknya sekitar 6.500 kilometer lebih jauh dari bumi daripada pusat planet, akan terdengar paling akhir. Kelambatan waktu itu dapat diukur dengan sangat teliti untuk mengetahui daerah mana yang sedang didengar. Dengan cara itu gema tadi dapat dilacak menurut urutan sejumlah zona berbentuk cincin yang makin lebar dan makin jauh pada planet itu.

Penentuan letak sumber gema secara kasar ini dapat digabungkan dengan mengukur intensitas gema untuk mengetahui bagian-bagian yang menonjol di permukaan. Bila permukaan Venus seragam di semua tempat, jumlah energi yang dipantulkan oleh setiap zona berbentuk cincin tadi akan mengikuti pola yang dapat diramalkan oleh teori. Tetapi bukan itulah yang terjadi. Beberapa daerah ternyata memantulkan energi lebih banyak daripada yang diharapkan oleh teori. Hal ini menujukkan bahwa disitu terdapat satu daerah atau lebih yang daya pantulnya lebih besar. Dengan menganalisis kelambatan waktu kembalinya sinyal-sinyal radio tersebut, para ilmuwan dapat menetukan letak bagian-bagian yang daya pantulnya tinggi pada suatu daerah. Kedudukan sebenarnya bagian itu dalam setiap daerah yang dapat ditaksir karena daerah yang memantulkan energi tersebut bergerak akibat perputaran planet, dan dengan demikian gelombang yang dipantulkan pun menunjukkan adanya pergeseran Doppler yang dapat diukur. Dengan demikian teknik rumit ini memungkinkan orang menggambar peta kasar Venus. Para ahli astronomi radar telah menjadi demikian cerdik dalam pekerjaan semacam itu. Mereka dapat mengikuti bagian yang daya pantulnya tinggi muncul di salah satu tepi planet yang berselubung awan ini, lalu bergerak lambat ke tengah dan lenyap di tepi lainnya.

Bagian yang daya pantulnya tinggi ini oleh beberapa pengamat diduga merupakan jajaran pegunungan mirip yang ada di bumi. Salah satu jajaran yang disebut pegunungan Alpha barangkali panjangnya 3.800 kilometer dan melintang kira-kira dari utara ke selatan, sedangkan pegunungan Beta melintang dari arah barat timur dan mungkin lebih panjang. Kelihatannya lebar Alpha maupun Beta beberapa ratus kilometer dan keduanya memberikan petunjuk tentang adanya struktur yang kompleks. Mungkin terdapat beberapa punggung di setiap jajaran, seperti pada beberapa pegunungan di bumi. Atau mungkin itu mempunyai topografi yang tidak dikenal di bumi dan tak terdapat di tempat lain dalam tata surya.

HABLUR ES DI ATAS PERMUKAAN MERAH MEMBARA

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.24

Venus : Part - 7

Para detektif Venus sekarang telah memperoleh informasi cukup banyak tentang planet itu hingga dapat memberikan gagasan mengenai iklim serta pemandangan di sana. Atmosfer Venus sangat berat, kerapatannya 30 kali kerapatan atmosfer bumi. Maka angin lembut saja sudah cukup menyebabkan timbulnya badai debu. Kira-kira 60 kilometer di atas permukaan terdapat awan abadi yang bagian atasnya terdiri dari hablur es dan titik-titik air pada bagian yang lebih rendah. Bilamana ada celah pada awan, maka langit yang terlihat akan bewarna pucat hijau kekuning-kuningan. Matahari yang jarang kelihatan di Venus bewarna merah bata. Badai hebat dapat mengaduk awan, tetapi hujan yang terjadi akan menguap di atmosfer yang kering dan panas sebelum sampai dekat tanah.

Sebagian besar permukaan Venus agak rata, mungkin terdiri dari debu merah yang memijar dalam bayangan, dan suhunya cukup tinggi untuk memanggang zat organik. Batuan dipermukaannya yang tak terlindung terkena erosi angin sehingga bentuknya berlengkung-lengkung dan gerowong seperti batuan di gurun bumi yang terkikis oleh angin berpasir; namun gambaran ini sama sekali belum pasti.

Selain atmosfer dan permukaannya yang berbeda dengan bumi, bagian dalam Venus tampaknya juga berbeda. Peralatan yang dibawa Mariner II menunjukkan bahwa medan magnet Venus sangat lemah, bahkan mungkin tidak ada, dan ini merupakan bukti kuat bahwa Venus tidak mempunyai teras besi cair seperti halnya bumi. Boleh jadi banyak terdapat besi dalam bahan asli pembentuk planet itu. Bila besinya tidak mengendap ke pusat, seperti kebanyakan besi di bumi dahulu, maka unsur itu dapat berada cukup dekat dengan permukaan dan bergabung dengan oksigen. Hal ini dapat menjelaskan tiadanya oksigen dalam atmosfer Venus.

Sekarang orang tahu bahwa Venus begitu panas dan kering sehingga hanya sedikit harapan untuk menemukan kehidupan di sana. Andaikata ada air dalam bentuk cair dekat kutub, air ini kelewat panas hingga akan menghancurkan senyawa organik kompleks, seperti misalnya protein dan asam nukleat, yang merupakan dasar kimia kehidupan di bumi. Mungkin ada jenis kehidupan lain dalam alam semesta, namun panas Venus akan berakibat fatal pula bagi makhluk tersebut.

Tentu saja terdapat kemungkinan, walaupun kecil, bahwa Venus lebih dingin pada masa silam dan mengandung air cair tempat kehidupan dapat berkembang. Kalau dahulu memang pernah ada, organisme hidup mungkin dapat menjalani evolusi cukup cepat untuk menyesuaikan diri dengan iklim yang makin tidak nyaman itu, boleh jadi dengan mengungsi ke awan agar tetap hidup.

Namun hal ini tampaknya mustahil. Pesawat antariksa tahan panas yang dikirim dari bumi ke permukaan Venus mungkin tidak akan menemukan kehidupan atau tanda-tanda kehidupan yang pernah ada di sana. Molekul organik yang berasal dari awal sejarah tata surya juga tidak akan ada. Panas Venus tidak akan memungkinkan lestarinya molekul semacam itu; lain halnya dengan keadaan beku di bulan.

MENDIRIKAN KOLONI DI VENUS

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.24

Venus : Part - 8

Walaupun sekarang tampaknya mati, Venus tidak perlu dicoret untuk selamanya dari daftar tempat untuk dihuni kehidupan. Ada juga kemungkinan untuk hidup dengan sukar disana. Disana ada air, karbon dioksida, dan cahaya; inilah syarat yang diperlukan untuk fotosintesis. Nitrogen, yang penting untuk kehidupan di bumi, mungkin merupakan bagian terbesar atmosfernya. Unsur-unsur sampingan lainnya yang diperlukan kehidupan, misalnya fosfor, magnesium, dan lain-lainnya, menurut dugaan terdapat di permukaannya yang berdebu. Dengan demikian, sekalipun tidak sanggup mengembangkan kehidupannya sendiri, Venus merupakan tempat yang barangkali dapat dihuni oleh makhluk bumi. Mungkin ini dapat dicoba setelah suatu masa peralihan yang dapat disebut “teknik mikrobiologi planet“.

Mereka yang pernah menelaah keanekaragaman serta keberlimpahan kehidupan di bumi tentu akan terkesan oleh kemampuan yang menakjubkan pada beberapa jenis kehidupan untuk beradaptasi pada berbagai macam lingkungan. Organisme renik di bumi dapat tumbuh subur di sumber air panas, di padang salju, di air payau yang jenuh, di dasar laut yang gelap, dingin, dan tertindih tekanan. Bukan mustahil bahwa suatu organisme dapat ditemukan atau dikembangkan sehingga dapat hidup dan tumbuh pada suatu tempat di Venus, dengan harapan bahwa kelak planet itu dapat dihuni oleh bentuk kehidupan yang lebih tinggi.

Salah satu kawasan di Venus tempat koloni kehidupan dapat dikembangkan adalah di dalam awannya. Lapisan bawah awan mungkin mengandung tetes-tetes air pada suhu kira-kira -9O C, suatu keadaan yang dalam eksperimen laboratorium dapat mendukung kehidupan. Untuk menyesuaikan diri dengan cara hidup di dalam awan Venus, koloni renik harus dapat menyerap air dari awan atau atmosfer dan mengubah gas nitrogen menjadi senyawa nitrogen untuk digunakan dalam proses kimia tubuhnya. Organisme tadi harus senatiasa hidup di udara, mengapung dengan dukungan golakan-golakan yang mengaduk awan. Organisme renik yang “ditanam“ di awan Venus tersebut harus tahan sinar ultraviolet dan harus sanggup berkembang biak dengan cepat bila terbawa ke tempat-tempat yang keadaannya menguntungkan.

Kelihatannya syarat-syarat ini cukup berat, tetapi organisme renik di bumi baru-baru ini telah membuktikan bahwa makhluk itu dalam beberapa tahun saja sudah mampu beradaptasi terhadap lingkungan baru yang ganas. Beberapa di antaranya sanggup bersarang dalam tangki bahan bakar pesawat jet, dan di situ organisme tersebut hidup dari minyak tanah dan tampaknya tak terpengaruh oleh perubahan hebat tekanan dan suhu lingkungannya. Kelompok organisme lain telah belajar hidup dalam air pendingin yang mengalir melalui pusat reaktor nuklir, padahal di situ radiasinya dapat menewaskan orang dengan cepat.

Kemampuan yang dicapai penghuni paling sederhana bumi ini memberikan dorongan kepada para insinyur mikrobiologi planet. Mereka mengharapkan bahwa organisme yang diseleksi secara ilmiah akan lebih baik lagi. Jenis paling baik yang dapat dijadikan bahan permulaan adalah ganggang biru-hijau. Ganggang tersebut memiliki banyak kemampuan yang diperlukan. Bila ganggang ini ditaruh dalam laboratorium yang lingkungannya dibuat semakin berat selama beberapa tahun atau beberapa dasawarsa, maka akan tumbuh sejumlah biakan yang akan sanggup berbiak dalam awan Venus. Mengangkut biakan itu ke hunian yang baru bukanlah masalah, bahkan kendaraan antariksa yang sekarang ada pun sudah mencukupi.

Menurut salah satu spekulasi, kedatangan organisme renik di Venus akan berpengaruh besar pada planet itu. Setelah hidup di sana dan berkembang biak dengan cepat, organisme tadi akan menyerap sejumlah besar air serta karbon dioksida dari awan tempat tinggalnya dan menguraikan zat-zat itu dengan fotosintesis sehingga menghasilkan makanan serta melepaskan oksigen ke atmosfer. Sebagian besar zat organik yang akan dibentuknya adalah karbohidrat, yang boleh dikata merupakan gabungan karbon dan air. Bila sebagian dari organisme renik tadi jatuh ke atmosfer bawahnya yang panas atau terbawa ke sana oleh arus turun, kehidupan ini akan hangus menjadi karbon. Air di dalamnya akan terlepas dan kembali ke atmosfer, sedangkan karbonnya akan tertimbun di permukaan planet.

MEMBUAT VENUS DAPAT DIHUNI

Published by ABAD ANTARIKSA under on 21.20

Venus : Part - 9

Bila proses tersebut berlangsung cukup lama – tetapi kiranya tidak perlu terlampau lama – organisme itu akan menyerap banyak karbon dioksida dari atmosfer dan menukarnya dengan oksigen. Suhu tinggi di permukaan planet sebagian disebabkan oleh efek rumah kaca akibat karbon dioksida. Maka dengan berkurangnya karbon dioksida permukaan planet akan menjadi lebih dingin. Bila suhunya cukup rendah hingga hujan mengakibatkan terkumpulnya air di kedua kutub, efek rumah kaca akibat uap air di atmosfer pun akan berkurang juga dan akan menyebabkan lebih banyak pendinginan. Bila lebih banyak turun hujan, sebagian awan penahan panas akan tersibak. Akhirnya planet akan memiliki cukup banyak oksigen dan suhunya cukup rendah untuk menopang tetumbuhan serta binatang yang tinggi ketahanannya dari bumi. Bahkan Venus mungkin cocok untuk kolonisasi manusia bumi.

Koloni manusia di planet membara yang diselubungi awan es tampaknya tidak masuk akal. Tetapi kenyataan bahwa harapan semacam itu sekarang ada merupakan penghargaan terhadap keampuhan teknik para ahli astronomi yang telah berhasil menyingkapkan topografi, iklim serta atmosfer sebuah planet yang permukaannya belum pernah terlihat. Dari jarak 58 juta kilometer, berbagai macam peralatan cerdik dan deduksi rumit kini sedang memecahkan rahasia planet yang berselubung itu.